Sabtu, 02 November 2013

Terbang Untuk Pergi

 aku berjalan di bawah pepohonan yang rindang, dengan di temani gemuruh guntur dan gerimis yang belum reda.entah kenapa terkadang aku merasa seperti hidupku tak pernah berguna. untuk apa aku lelah-lelah meneteskan air mataku kalau semua masalahku masih ada di depan mata. namun aku ternyata bisa tersenyum ketika aku melihat burung-burung madu di pohon belimbing bebas berterbangan, rasanya aku ingin seperti mereka merasakan dan menikmati kehidupan ini dengan lancar.
 aku terkejut ketika gemuruh guntur yang nyaring menyapaku, aku segera lari dari kesendirianku dan kembali lagi melihat masalah yang ada di mataku. saat msuk ke rumah sungguh membuat aku gila, tiba-tiba tak kusangka ibu sudah pergi meninggalkan rumah. dan aku lihat ayah masih mencoba mengecek alat-alat kesehatannya sambil memegangi kepalanya.
 sebenarnya aku sangat ingin menangis tapi aku adalah seorang lelaki yang mencoba menahan amarah di dadaku dan menggenggam erat tanganku. bagaimana aku bisa melupakan semua ini?. apalagi ayah memaksaku untuk menjadi seorang dokter yang mana ku tak pernah bermimpi untuk mendapatkan profesi itu. bukannya aku tak mensyukuri, tapi ini benar-benar bukan cita-citaku aku sudah muak mencium bau alkohol dan obat-obatabn setiap hari di rumah dan di tempat kerja ayah.
 sekarang aku sudah benar-benar menjadi bingung, untuk apa kita hidup kaya tapi kalau setiap hari selalu mendengar burung-burubg gagak berkoar di dalam rumah.

bersambung.............